Halaman 1
Integritas |Independen |Kredibel
KUPANG TIMES - berbicara Orde Baru, berarti Kita berbicara satu nama besar.
nama besar itu adalah Soeharto, Presiden Ke-2 Republik Indonesia.
di masa Kekuasaannya, Soeharto tidak pernah bekerja sendirian, dirinya selalu dikelilingi dan dibantu oleh sejumlah Tokoh Penting dan Politikus Elit, dengan berbagai keahlian, seperti; Juru Bisik, Tukang Atur, Teknokrat dan Pekerja Senyap.
Berikut, daftar Tokoh Penting di Balik Panggung Orde Baru, antara lain:
1. Soeharto,
"Kekuasaan yang membungkam dengan Senyap."
Soeharto memimpin dengan tenang, tapi tenangnya seperti permukaan danau, yang menyimpan pusaran di dasar.
Soeharto jarang marah, jarang bicara banyak, tetapi ribuan suara hilang dalam diamnya.
Kekuasaan Soeharto bukan soal kekuatan, tapi kemampuan membuat orang takut, tanpa merasa sedang ditakuti.
itulah bentuk baru dari Otoritarianisme: 'membungkam bukan dengan kekerasan terbuka, tapi dengan sistem yang membuat rakyat membungkam dirinya sendiri.
2. Ali Moertopo,
"Arsitek dari Politik Bayangan."
Ali Moertopo bukan Panglima di medan perang, tapi ia adalah Jenderal dibalik narasi.
dialah yang membangun jalan sunyi antara militer dan kekuasaan sipil.
dan dia juga yang menjahit demokrasi agar pas /atau sesuai di tubuh Orde Baru.
Ali Moertopo tahu, kekuasaan tidak selalu butuh senjata.
terkadang, cukup dengan doktrin dan opini publik yang direkayasa melalui operasi khusus (Opsus).
dan Ali Moertopo, juga menciptakan suara, menyebar kabar, membentuk wacana.
Kuasanya bukan di Jabatan, melainkan di kemampuan membuat yang salah terdengar meyakinkan.
3. Soemitro,
"Ekonom di Tengah Mesin Kekuasaan."
Soemitro Djojohadikusumo, teknokrat dengan visi, yang berdansa dengan kekuasaan sambil membawa grafik dan data.
Soemitro, percaya pada pembangunan, tapi pembangunan tersebut sering tidak berpijak pada keadilan sosial.
Soemitro, ingin Indonesia kuat secara ekonomi, tapi tidak selalu bisa membela mereka yang tertinggal di pinggir jalan.
dan dari rahim kebijakan teknokratik itulah lahir generasi "pembangunanisme" yang memuja angka, tapi lupa bertanya, "Pembangunan ini untuk Siapa.?"
4. Benny Moerdani,
"Senyapnya Intel, Tajamnya Kekuasaan."
Benny, tidak banyak tampil /atau muncul di depan layar, tapi bayangannya ada di setiap lorong kekuasaan.
Benny adalah telinga dan bayangan Orde Baru.
Benny, tahu lebih banyak dari yang ia katakan dan mampu menggerakkan lebih banyak dari yang terlihat.
di tangannya, intelijen bukan lagi penjaga rahasia negara, melainkan alat untuk mengatur ulang peta kekuasaan.
Benny, bergerak di antara dokumen, tapi bayangannya terasa sampai ke ruang tidur para aktivis.
dan dengan diam-diam, dirinya (Benny) ikut menulis 'Bab Gelap' tentang siapa yang boleh hidup dan siapa yang harus dihilangkan.
5. Harmoko,
"Ketika Pers Dijinakkan menjadi Peliharaan."
Sebagai Menteri Penerangan, Harmoko adalah wajah yang ramah dari sistem yang membungkam.
Harmoko bukan tukang gebuk /atau pukul, tetapi dirinya tahu bagaimana cara membungkam tanpa memukul.
Harmoko, mengatakan 'kebebasan pers' tapi dirinya juga yang menyebarkan SIUPP - Surat Izin yang bisa dicabut kapan saja.
di tangannya, pers menjadi cermin yang tidak memantulkan apa-apa, karena apapun yang tidak disukai penguasa, tidak boleh dicetak.
6. Ibnu Sutowo,
"Ketika Sumber Daya menjadi Warisan Pribadi."
Ibu pernah menjadi simbol kekuatan ekonomi, dan juga simbol dari kerakusannya.
melalui Pertamina, Ibnu mengelola negara seperti mengelola perusahaan pribadinya.
dan di tangannya, Kita belajar bahwa; minyak tidak hanya bisa menyalakan lampu, tapi juga bisa membakar akal sehat.
di masa Orde Baru, sumber daya bukan milik rakyat, tapi milik mereka yang cukup dekat dengan pusat kekuasaan.
Ibnu adalah bayangan dari masa ketika kuasa ekonomi dan kuasa politik bersatu, dan tidak ada yang berani memisahkan keduanya.
cukup tahu • Orde Baru berlangsung dari tahun 1966 hingga 1998.
Berikut, beberapa poin penting terkait periode kelam Orde Baru, antara lain:
Awal Mula,
• Masa Orde Baru dimulai dengan dikeluarkannya Surat Perintah 11 Maret 1966 (Supersemar).
• Surat ini memberikan wewenang kepada Soeharto untuk mengambil tindakan demi keamanan dan stabilitas negara.
Pemerintahan Soeharto,
• Soeharto kemudian menjadi Presiden Republik Indonesia dan memimpin selama kurang lebih 32 tahun.
• Pemerintahannya dikenal dengan fokus pada stabilitas politik dan pembangunan ekonomi.
Akhir Orde Baru,
• Krisis moneter tahun 1997 menyebabkan ketidakstabilan ekonomi dan politik.
• Gelombang demonstrasi besar-besaran menuntut reformasi.
• Pada 21 Mei 1998, Soeharto mengundurkan diri, menandai berakhirnya masa Orde Baru.
BERSUARA KERAS untuk Demokrasi dan Keadilan dan Kejujuran.
• Informasi Artikel:
| Konteks: Politik, Sejarah,
| Penulis: W.J.B
| Sumber: berbagai sumber,
| Penerbit: Kupang TIMES